Selasa, 02 Agustus 2016

NAMA MUHAMMAD, KEBENARAN YANG MEREKA SEMBUNYIKAN

Kisah ini bercerita tentang Abdullah al-Majorci. Seorang mantan ulama besar Nasrani yang menjadi seorang muslim. Abdullah hidup saat Perang Salib masih berkecamuk.
Lahir di Majorca (baca: Mayorka), Spanyol,kemudian pindah ke Tunisia di bawah kekuasaan DaulahHafshiyah. Ia adalah seorang Nasrani yang taat dan tekun mempelajari agamanya. Dalam waktu singkat, ia berhasil menghafal setengah Injil.Namun akhirnya, ia memeluk Islam, setelah mengetahuibahwa Muhammad, seorang nabi dari Arab, adalah nama yang disembunyikan kebenrannya oleh pasturnya.Setelah memeluk Islam, ia mengganti namanya menjadiAbdullah dan menulis kisah perjalanan hidupnya dalam buku Tuhfatu al-Arib fi Rad ‘ala ahli ash-Shalib.Nama dan LaqobnyaNamanya adalah Abdullah bin Abdullah at-Tarjuman. Ini adalah nama yang ia pilih setelah memeluk Islam. Sebelumnya, namanya adalah Anselm Turmeda. Ia melaqobi dirinya dengan tarjuman karena aktivitasnya sebagai penerjemah sultan dalam surat-menyurat dengan bangsa Frank.Palma, sebuah daerah di Majorca yang menjadi tempat kelahiran Abdullah al-Majorci.Ia dinisbatkan kepada Majorca karena kota ini adalah kota kelahirannya.Memeluk Islam Karena Nama Muhammad Adalah KebenaranDalam buku yang ia tulis yang berjudul Tuhfatu al-Arib fiRad ‘ala ahli ash-Shalib, Abdullah al-Majorci menceritakan kisah keislamannya:Aku adalah seorang yang berasal dari Majorca -semoga Allah mengembalikannya kepada Islam-. Majorca adalah kota besar di pesisir laut Spanyol. Sebuah kota yang diapit dua gunung. Kota yang terdapat dataran rendah yang kecil. Itulah kota para pedangang. Banyak kapal-kapal besar bermuara, berniaga di pinggir lautnya. Hutannya adalah hutan zaitun dan tin. Dan pagarnya adalah 120 benteng lebih mengelilingi kota ini. Kota ini dimakmuri oleh banyak mata air. Semuanya berhilir ke lautan.Ayahku adalah orang yang tinggal di perkotaan Majorca.Ia tidak memiliki anak kecuali aku. Ketika usiaku menginjak 6 tahun, ayah menyerahkan pendidikanku kepada seorang pastur. Aku membaca Injil di hadapan pastur itu. Hingga aku berhasil menghafal setengahnya hanya dalam waktu 2 tahun. Setelah itu, aku mempelajari bahasa Injil dan ilmu logika bahasa (mantiq), padahal saat itu usiaku masih 6 tahun.Dari Majorca, aku pindah ke Kota Lleida, wilayah Catalonia. Pada masa itu, kota ini adalah kota ilmu bagi orang-orang Nasrani. Setiap 1000 atau 1500 orang pelajar Nasrani yang tinggal di sana, dipimpin oleh seorang Romo. Di sana aku mempelajari ilmu pasti selama enam tahun, kemudian mempelajari Injil denganbahasa aslinya selama empat tahun.Setelah menimba ilmu di Lleida, Abdullah pindah ke Balunia (Arab: بلونية) di wilayah al-Anbardiyah (Arab:الأنبردية). Kota ini juga merupakan kota pelajar Nasrani di zamannya. Setiap tahun 1000 orang lebih penuntut ilmu Nasrani datang dari segala penjuru untuk belajar di kota ini. Di sini Abdullah tinggal di gereja, dibawah pengasuhan Uskup Agung Nicole Martel. Nicole Martel memiliki kedudukan ilmu, agama, dan kezuhudan yang sangat tinggi di masyarakat. Ia sangat istimewa disbanding uskup-uskup lainnya.Abdullah al-Majorci bercerita tentang hubungannya dengan Nicole Martel: Di bawah pengasuhan Nicole Martel, aku mempelajari pokok-pokok agama Nasrani dan hukum-hukumnya. Aku senantiasa dekat dengannya. Mengabdikan diri melayaninya. Dan mewakilinya dalam banyak kesempatan. Hingga aku pun menjadi murid kesayangannya. Puncak itu semua, ia serahkan padaku kunci-kunci rumahnya, perbendaharaan hartanya, tempat makan dan minumnya. Semuanya berada di tanganku. Kecuali satu kunci saja. Kunci sebuah ruangan kecil di dalam rumahnya yang biasa ia gunakan untuk menyendiri. Dugaanku, ruang itu adalah ruang harta-harta yang ia dapatkan dari hadiah dan pemberian. Aku tidak tahu persisnya.Aku terus berguru dan mengabdi pada Nicole Martel selama 10 tahun. Hingga tiba suatu waktu, ia menderita sakit. Ia tidak bisa menghadiri pertemuan dengan uskup-uskup lainnya sebagaimana yang biasa ia lakukan. Para uskup mengadakan diskusi dan kajian keagamaan, sambil menunggu kehadirannya. Mereka sampai pada firman Allah ﷻ di Injil, tentang perkataan Nabi Isa,“Sesungguhnya akan datang setelahnya seorang nabi, namanya al-Baraqlith (Arab: البارَقليط)”.Mereka terus berdiskusi, siapakah Nabi ini. Nabi yang dimaksud Injil akan datang setelah Isa. Setiap orang berbicara dan mengeluarkan pendapat sesuai dengan kadar ilmu dan pemahamannya. Perdebatan akan namaini kian seru, namun diskusi berakhir tanpa titik temu.Setelah itu aku datang menemui Nicole Martel. Ia bertanya padaku, “Apa yang kalian diskusikan pada hari ini, saat aku tidak hadir?” Kukabarkan padanya bahwa para uskup berselisih pendapat tentang nama al-Baraqlith. Fulan menjawab demikian. Dan Fulan menyebutkan nama yang lain. “Lalu apa pendapatmu?” tanyanya padaku. “Aku menjawab dengan jawaban Qadhi Fulan dalam tafsirnya terhadap Injil”, jawabku.Kemudian ia berkata, “Engkau keliru. Fulan juga keliru. Dan Fulan lebih mendekati kebenaran. Namun yang benar, bukanlah nama-nama yang kalian sebutkan (dalam dikusi). Karena tidak ada yang mengetahui tafsir tentang nama yang mulia ini kecuali seorang ulama yang mendalam ilmunya. Kalian belum sampai level itu. Ilmu kalian masih sedikit.”Aku segera mencium kakinya, dan berkata, “Wahai tuanku, Anda tahu aku berjalan dari negeri yang jauh demi belajar kepadamu. Aku juga telah mengabdi kepadamu selama 10 tahun. Aku telah mendapatkan banyak pengetahuan darimu yang aku tidak mampu menghitung banyaknya. Mudah-mudahan dengan kebaikanmu, kiranya engkau mau memberi tahu tentangtafsir nama itu.”Tiba-tiba ia menangis. Lalu berkata kepadaku, “Wahai anakku, demi Allah engkau telah banyak memuliakanku dengan pengabdian dan pelayananmu. Tapi, aku khawatir jika nama ini kuberitahukan padamu engkau akan dibunuh (atau dimusuhi) oleh orang-orang Nasrani dari segala penjuru.”“Tuan, demi Allah Yang Maha Agung, dan atas hak Injil serta apa yang dikandungnya, aku tidak mengatakan sesuatu kecuali atas perintahmu.”, jawabku meyakinkannya.Ia berkata, “Wahai anakku, dulu aku pernah bertanya padamu saat pertama kali kau datang padaku dari negerimu, ‘Apakah tempat tinggalmu dekat dengan orang-orang Islam? Apakah mereka memerangi kalian dan kalian memerangi mereka? Semua itu untuk mengujimu seberapa jauh engkau benci dengan Islam. Ketauhilah wahai anakku bahwa al-Baraqlith adalah nama nabi mereka (umat Islam), Muhammad. Kepadanyalah diturunkan al-Kitab (Alquran) yang keempat, yang disebutkan melalui lisan Danial ‘alaihissalam. Ia mengabarkan bahwa kita itu akan diturunkan padanya. Agamanya adalah agama kebenaran. Dan millahnya adalah millah yang putih sebagaimana yang disebutkan di dalam Injil”.Aku berkata padanya, “Tuan, bagaimana solusi dari masalah ini?” Abdullah bingung, sementara ia mempelajari Nasrani, hidup di lingkungan Nasrani, dan berguru kepada ulama besar Nasrani, tapi kebenaran ada pada Islam.“Masuklah ke dalam agama Islam wahai anakku”, jawabnya.“Apakah keselamatan itu dengan memeluk Islam?” tanyaku.“Betul. Selamat di dunia dan akhirat.”, jawabnya.“Tuan, sesungguhnya orang yang cerdas memilih yang terbaik dari yang dia ketahui. Jika Anda mengetahui kemuliaan agama Islam, apa yang menghalangimu darinya?” tanyaku lagi.Ia menjawab, “Anakku, sesungguhnya Allah belum menunjukkanku tentang apa yang kusampaikan kepadamu berupa keagungan Islam dan kemuliaan nabi umat Islam kecuali saat aku telah tua dan fisikku sudah melemah, memang tidak ada udzur bagiku, bahkan itulah hujjah Allah untukku. Seandainya aku mengetahuinya ketika seumurmu, akan kutinggalkan segalanya. Aku akan memeluk agama yang benar ini. Dan cinta dunia adalah pokok dari segala keburukan.”Maksud Nicole Martel, di kondisi tuanya jauh lebih sulit untuk memeluk Islam. Ia telah memiliki kedudukan. Seorang yang memiliki kedudukan lebih sulit untuk mengatakan kebenaran. Resiko yang ia tanggung lebih besar. Namun ia sadar itu bukanlah alasan. Kedudukan, penghormatan, harta, dan semua bagian dunia telah terlanjur mengecap di hatinya. Ia sadar cinta dunia adalah pokok keburukan.Pelajaran bagi kita, belajarlah agama Islam sebelum kitamenjadi siapa-siapa. Ketika kita sudah berkedudukan. Memiliki gelar akademik yang tinggi. Memiliki masa yang banyak. Maka gengsi untuk menerima kebenaran lebih besar. Apalagi kebenaran datang lewat orang yang lebih rendah kedudukannya dari kita. Datang dari mereka yang level pendidikannya jauh di bawah. Atau dari mereka yang miskin. Atau dari mereka yang jabatannya jauh di bawah. Belajarlah agama selagi Andabukan siapa-siapa.Abdullah al-Majorci melanjutkan. Kukatakan padanya, “Tuan, apakah engkau memerintahkanku untuk pergi menuju negeri kaum muslimin dan memeluk agama mereka?”“Jika engkau cerdas dan berharap selamat, segera lakukan itu. Engkau akan mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat.”, jawabnya.“Akan tetapi anakku, apa yang kita bicarakan sekarang ini tidak disaksikan seorang pun selain kita. Sembunyikan ini sekuat kemampuanmu. Apabila engkau sebarkan, aku akan mendustakan semua ucapanmu. Aku tidak butuh pertolonganmu. Dan tidak manfaat bagimu menukil ucapanku tentang hal ini (di tengah-tengah umat Nasrani).” Ia memberi peringatan.Maksudnya orang-orang tidak akan mempercayaimu kalau engkau mendengar hal itu dariku. Dan aku juga akan mendustakan ucapanmu di hadapan mereka. Jadi, engkau sendiri yang akan rugi dan menderita.“Tuanku, aku berlindung kepada Allah dari yang demikian.”. kuucapkan janjiku sesuai yang dia inginkan.Kemudian aku pamit kepadanya dan mulai menempuh cara untuk keluar dari daerah ini. Ia mendoakan kebaikan untukku dan membekaliku dengan 50 Dinar emas. Aku menempuh perjalanan laut, kembali ke kampung halamanku, Majorca.Di Majorca, aku tinggal bersama orang tuaku selama 6 bulan. Setelah itu aku pergi menuju Pulau Sisilia dan tinggal di sana selama 5 bulan sambil menunggu tumpangan yang hendak pergi menuju negeri kaum muslimin.Kendaraan yang kutunggu-tunggu pun tiba, dari Sisilia aku bersafar menuju Tunisia. Ketika aku sampai di Tunisia, ada rahib-rahib Nasrani yang mendengar kedatanganku. Mereka pun mendatangiku dan membawaku ke tempat mereka. Aku pun tinggal bersama mereka selama 4 bulan. Setelah itu aku bertanya kepada mereka, “Apakah di negeri ini, penguasanya menjamin lisannya seorang Nasrani?”Saat itu, sultan yang berkuasa di Tunisia adalah Abu al-Abbas Ahmad rahiamhullah. Mereka memberitahuku bahwa penguasa negeri ini adalah penguasa yang baik. Salah seorang terdekatnya adalah Yusuf ath-Thayyib. Ia dikenal dengan kebaikannya. Aku pun sangat senang mendengar kabar tersebut.Aku juga bertanya kepada mereka tempat laki-laki yang baik itu. Mereka menunjukkanku kediamannya. Aku pun menemuinya. Kujelaskan padanya tentang keadaanku dan sebab kedatanganku adalah untuk memeluk Islam. Laki-laki tersebut sangat gembira mendengar apa yang kukatakan. Ia ingin menyempurnakan kebaikan tersebut melalui dirinya sendiri. Lalu aku dipersilahkan menunggangi kudanya. Dan membawaku ke rumah Sultan Abu al-Abbas.Sesampainya di rumah sultan, Yusuf al-Khoir mengabarkan sultan tentang diriku. Aku meminta izin sultan untuk tinggal di wilayahnya, dan ia pun mengizinkannya. Hal pertama yang ditanyakan sultan kepadaku adalah tentang umurku. Ku jawab, “Umurku 35tahun.”Kemudian ia bertanya, ilmu pengetahuan apa saja yang sudah kupelajari. Aku pun menjawabnya. Ia berkata, “Anda datang dengan niat baik. Masuk Islamlah dengan berokah dari Allah.”Aku katakana kepada Yusuf, yang saat itu menjadi penerjemahku, “Katakan kepada Sultan, ‘Seseorang yang keluar dari suatu agama, maka para pemeluk agama tersebut akan menggunjingnya dan mencelanya.Aku berharap dengan kebaikan Anda agar kiranya mengumpulkan para pedagang Nasrani dan rahib-rahib mereka dan Anda mendengar apa yang mereka ucapkan di hadapanku. Saat itu aku umumkan keislamanku insya Allah.”Ia menjawab melalui penerjemahnya, “Anda meminta seperti apa yang diminta Abdullah bin Salam kepada Nabi ﷺ saat ia hendak memeluk Islam. Rasulullah pun mengumpulkan para rahib Nasrani dan pedagang-pedagang mereka.”Lalu sultan memasukkanku di sebuah ruangan dekat dengan majelisnya. Ketika orang-orang Nasrani datang, ia berkata kepada mereka, “Apa pendapat kalian tentangpastur (yakni Abdullah al-Majorci), yang baru saja datang tadi?”Mereka menjawab, “Wahai tuan kami, dia adalah ulama besar agama kami. Sesepuh kami mengatakan bahwa mereka tidak melihat ada orang yang lebih tinggi derajatkeilmuannya melebihi dia dalam agaka kami.”Sultan kembali bertanya, “Apa yang akan kalian katakana jika dia memeluk Islam?”“Kami berlindung kepada Allah dari yang demikian. Dia tidak akan melakukan hal itu”, jawab mereka.Ketika sultan telah mendengar ucapan orang-orang Nasrani, ia pun memanggilku. Aku pun hadir di hadapannya. Aku pun mengucapkan dua kalimat syahadat dengan tulus di hadapan orang-orang Nasrani itu. Syahadatku seolah-olah menampar wajah-wajah mereka.Serta-merta mereka menuduhku, “Dia mengucapkan halitu karena ingin menikah. Karena pastur-pastur kami tidak menikah.”Mereka pun keluar dari ruangan dengan kecewa dan bersedih hati. Setelah itu sulta memberiku empat dinar setiap harinya dan menikahkanku dengan putri al-Haj Muhammad ash-Sahffar. Saat aku hendak menikah, sultan menghadiahkanku 100 dinar emas dan memberikan sesetel pakaian baru. Dan aku pun menikah. Dari pernikahan tersebut aku memiliki beberapa anak. Di antaranya kuberi nama Muhammad. Aku berharap keberkahan menamainya dengan nama Nabi kita, Muhammad ﷺ.PenutupSyaikh Abdul Wahhab an-Najjar, salah seorang ulama Al-Azhar, berkisah tentang kata al-Bariqlith dalam kitabnya Qishash al-Anbiya. Dalam bukunya itu, ia menceritakan pernah berjumpa dengan salah seorang ahli bahasa Yunani kuno, Pastur Carlo Nino. Karena Injil ditulis dengan bahasa Yunani.Sayikh bertanya kepada Pastur Carlo Nino, “Apa arti kataal-Bariqlithus dalam Bahasa Yunani kuno?” Ia menjawab, “al-Mu’azzi (pemberi kabar gembira)”. Syaikhmenanggapi, “Terangkan maknanya secara harfiyah dalam bahasa Yunani kuno!” Pastur Carlo Nino menjawab, “al-Bariqlithus adalah yang banyak pujian.”Kemudian Syaikh menanggapi, “Apakah Anda percaya dengan Muhammad (yang artinya yang terpuji)? “Anda terlalu banyak bertanya”, jawabnya. Kemudian ia pun meninggalkan Syaikh Abdul Wahhab an-Najjar.Daftar Pustaka:– at-Tarjuman, Abdullah. 1988. Tuhfatu al-Arib fi Rad ‘ala ahli ash-Shalib. Beirut: Dar al-Basya-ir al-Islamiyah.

Minggu, 31 Juli 2016

“ Aku adalah Aku dan di dalam Aku ada Aku "

Bismillahirrohmaanirrohim. Kumulai dengan kutipan ayat dari surat Al-Kahfi ayat ke-91 yang artinya “sesungguhnya ilmu Kami meliputi segala apa yang ada padanya”; dan ku harap Dia menuntuntanganku yang menulis ini dengan kesempurnaan kehendaknya yang jauh dari “fana”.Sesuai dengan kodratnya, manusia senantiasa berhasrat untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dan, Allah pun telah menunjukkan jalan itu kepada umat manusia. Dalam surah Al-Baqarah ayat 186 Allah berfirman: “Dan, apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Akuadalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa kepada-Ku.”Dalam ayat lain, dikatakan: “Dan, kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke mana pun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha luas (rahmatnya) lagi Maha Mengetahui. (QS Al-Baqarah: 115). Pada surah Qaaf ayat 16 disebutkan: “Dan, sesungguhnya Kami menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya. Dan, Kami lebih dekat kepadanya dari urat lehernya.”Detak hidup adalah Alloh yang meliputi segala sesuatu; Manusia, Hewan, Tumbuhan, zat, sifat, Kata-kata dan sebagainya diliputi oleh Alloh yang maha tunggal. Sifat-sifatnya meliputi apa yang ada diantara yang hidup dan yang mati, yang besar dan yang kecil, yang hak dan yang batil, yang kaya dan miskin, yang rendah dan tinggi_singkatnya segala yang berpasangan yang telah “diadakannya”.Dia suci dari segala prasangka akan ketidakpastian dan bersih dari semua ketidak selarasan dan perselisihan akan kodrat sang khalik yang telah diciptakannya, dan hanya untuknya. Suci yang berarti tanpacela, tanpa cacat dan tanpa kekurangan akan semua kehendaknya karna Dialah tempat bersandarnya segala kehendak dan harapan serta pinta segala yang bernafsu.Aku baru saja kembali ke tulisan ini setelah mencarikan gembok bapakku yang hilang dan aku menemukannya. Mungkinkah ini isyarat bahwa segala sesuatu itu, saat ini masih terkonci dengan kuat?, maka dengan kehendakmu yang agung, kuharap mala mini engkau membukakan pintu itu kepadaku dan memberikanku keleluasaan menyelami isi kalbuku yang terdalam sehingga otakku dapat mencerna kearifan dari alam fikir yang telah kau anugrahkan kepadaku sebagai manusia.Demi mewujudkan wujudmu yang benar-benar ada, dan mustahil akan ketiadaan sehingga menghilang, temanilah aku dalam meneliti setiap keberadaanmu di dunia dimana aku berada saat ini sebab aku hambaMu yang sedang mencari wujud keberadaanmu atas diriku, karna engkau pastilah meliputiku jua.Muncullah kalimat yang membingungkan “Aku adalah Aku dan di dalam Aku ada Aku:”. Engkau berhak untuk membiarkanku menikmati kebingungan ini karna ketika aku bingung, maka disanalah engkau akan menunjukkan keberadaanmu sebab ketika aku mencariMu, engkau akan betul-betul dekat denganku, dan dalam kebingungan ini engkau semakin nyata adanya sebab dengan adanya diriMu aku mulai bingung.Aku letakkan harapan diriku kepada ke-20 sifatnyayang maha terpuji sehingga kesemuanya menyatu menjadisebuah kesempurnaan. 2 (dua) berarti aku dan dia, sedangkan 0 (nol) berarti suatu ketiadaan, atau peleburan akan batas-batas sang khalik dan mahluk; sehingga keberadaan sifat yang 20 itu pada diriku akan mengembalikanku kepada suatu ketiadaan, yaitu ketiadaanakan aku sebagai mahluk fana yang senantiasa mengagungkan fisiknya. Ketika aku menyadari dengan sebenar-benarnya akan berduanya aku denganNya maka aku akan tiada.Namun, masih tetap “ketiadaan” yang rumitkarna semua itu belumlah nyata.Di dalam alam fikir ini ingin kucoba menelaah isi terdalam sanubariku dengan “bermain-main” dalam alam fikir (sementara) ini dengan mencoba mengupas kesejatian sifat tuhanku yang masih rumit ketika aku menulis kata demi kata pada saat ini. Dengan mengucap “tiada daya dan upaya Melainkan engkau yaaAlloh”.Sedemikian jelasnya engkau kabarkan kepadaku akan sifat-sifatMu yang agung agar aku dapat menyelami dan mendalamiMu wahai Tuhanku, sebab keberadaan sifat-sifatMu itulah yang meyakinimu sebagai tuhan yang meliputiku. Sifatmu suci tanpa cela dan kekurangan, dan mengingkarinya akan membawa kesesatan dan petaka yang nyata. Didalamnya terdapat rahasia besar untuk kugali agar benar-benar dekat denganmu sebab bagaimana aku menghampirimu tanpa mengenalmu_malulah rasanya. Dan bagaimana aku mengenalmu tanpa aku mengetahui bagaimana engkau melalui sifatmu. Sebab itu, izinkanlah aku menghampiri untuk bersamamu sebagai kekasihmu dengan mengenalmu untuk menghampirimu melalui mendalami sifat-sifatMu.

bejilbab Tapi tekanjang

TAK TAU MALU
>Itulah fenomena tanda tanda akhir zaman yang semakin nyata sekarang iniTidak ada rasa malu,tak ada rasa berdosa.Semuanya berjalan terlihat biasa saja.Mengaku Islam agamanya.Mengaku Allah yaitu tuhannya.Mengaku Al-Qur’an pedoman hidupnya.Mengaku Muhammad yaitu nabinya.Namun sayang pengakuan imannya cuma berhenti di lisan semata.Tidak hingga pada dinding hatinya terutama ruang hati terdalam.Tidak terlihat dari perbuatannya yang ada justru prilaku seperti tidak ber-Tuhan.Miris lihat insan bernama wanita.Berjalan berlenggok dengan aurat terbuka.Cengar – cengir mempertontonkan badan mengundangsyahwat durjana.Mengadu tubuh s***i pada satu serta yang lain.Semakin kecil baju makin s***i katanyasemakin sempit makin aduhai katanyasemakin ketat makin sempurna katanyaBangga sama tubuhnyanamun dikufuri dengan mengumbarnya kemana-mana.Dinasehati jadi nyinyir “jangan sok suci”.Pakaian tidak masalah katanya yang penting hati..Tuturnya mau ke Syurga namun terasa benar sendiri..walau sebenarnya, di syurga tidak ada wanita seperti ini.Boro-boro ke syurga, mencium wanginya saja tidak bisadi nikmati.Ada juga wanita dengan kerudung modisKerudung berjambul seperti punuk onta. Sadis!Berkerudung Sesuai syariat katanya, buat miris Jilbab panjang disebutkan kuno tidak necis.Begini, Jilbab sesuai tuntunan zaman. Tragis!Beribadah ini butuh ilmu Tidak asal pakai dengan tafsir sendiriDiberi tau sama yang faham, belaguTerus pilih punuk onta katanya agar percaya diriBegitulah fenomena zaman sekarangIman tergerus dengan barang daganganYang penting keren turut ke barat-baratanTelah lupa ama perintah Tuhan.Maksiat terbentang jadi biasaYang nentang jadi disebut Islam-IslamanDituduh Islam Aliran Begitulah,Yang salah dibenarkanYang benar disalahkanNamun tak sedikit yang terus bertahanPada ajaran yang tertuang dalam Al-qur’anBerpakaian iman, berjilbab panjangWalau kadang datang cibiran“ih, ini Islam apaan?? ”“Ada dua golongan dari masyarakat neraka yang belum pernah saya saksikan :1 Satu golongan yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan2 para wanita yang berpakaian namun te****ang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring.Wanita seperti ini tidak akan masuk surga serta akan tidak mencium baunya, meskipun baunya tercium selama perjalanan sekian serta sekian. ” (HR. Muslim no. 2128)Astagfirullah….Ya Allah, Ampunilah seluruhnya dosa-dosa kami, baik sengaja maupun tak, berkahilah kami, ramahtilah kami, berikanlah kami hidayah-Mu supaya kami selalu dekat kepada-Mu sampai akhir hayat.

Sabtu, 30 Juli 2016

Kemajuan Korea Selatan Setelah Terinspirasi Satu Ayat Al Quran

Siapa yang mengikuti Al Quran untuk kebaikan akhirat dengan landasan iman, pasti akan mendapatkan surga. Siapa yang mengikuti Al Quran untuk kebaikan dunia, insya Allah hasilnya juga akan terlihat di dunia. Dan siapa yang mengikuti Al Quran seluruhnya, niscaya akan mendapatkan kebaikan di dunia dan akhirat sekaligus.Berikut ini kisah kemajuan Korea Selatan setelah mengambil inspirasi dari satu ayat Al Quran. Kisah ini banyak beredar di media sosial.Suatu ketika seorang menteri negeri jiran menerima seorang menteri sejawat dari Korea.Saat berjalan menuju ruang tamu, sang menteri Korea melihat sebuah ‘hiasan’ pigura yang indah menempel. “Lukisan apa itu?,” tanyanya.Tuan rumah menjelaskan bahwa itu bukan lukisan melainkan sebuah kaligrafi dari Al Qur’an yang berbunyi: Innallaha laa yughayyiru maa biqaumin hatta yughayyiru maa bi ‘anfusihim.“Apa artinya?”“Sesungguhnya Allah (God) tidak akan mengubah sebuah kaum sehingga kaum itu mengubah apa yang ada pada dirinya”Menteri Korea ini terpana dan manggut-manggut.Beberapa tahun berselang, menteri negeri jiranini mendapat undangan sang sahabat Korea-nya untuk berkunjung ke negeri gingseng tersebut.Menteri negeri jiran sangat terkejut dengan perkembang Korea Selatan yang luar biasa. Di mana sang kolega saat itu sudah menjabat sebagai perdana menteri.Menteri jiran bertanya apa resepnya. Sang Perdana Menteri mengatakan bahwa dirinya terinspirasi oleh kaligrafi yang dilihatnya saat berkunjung ke Malaysia beberapa tahun silam. Dia menerapkan ujaran kaligrafi yang luar biasa itu dengan menumbuhkan kembali semangat Hwarang yakni amanah, berani, disiplin, rajin dan setia untuk mengubah pribadidan karakter jajaran pemerintahnya di segala lini sehingga dampaknya menjadi seperti saat ini.Sang menteri jiran bergumam: “Non muslim menerapkan satu ayat dalam Al Quran dengan sungguh-sungguh hasilnya begitu menakjubkan. Sementara umat Islam membahas ribuan ayat dengan penuh perdebatan yang sayang nyaris nihil implementasi… ”Kisah dari Tan Sri Junaid Sanusi… Wallahu’alam. And sya kutip dari VOAUMAT

Malas Dan merasa kenaq

-Kebanyakan dari sifat manusia hanya ingin berubah,hanya ingin sukses, namun untuk menjalankannya mereka malas, jika kamu tanya kepada mereka tentang resiko yang di terima ketika malas mendera mereka, mereka mengetahui akibat dari sifat malas, mereka mengakambing hitamkan sesuatu yang lain, mereka menganggap ini semua sudah takdir Allah taale, padahal tuhan bae menyuruh hambanya untukmeminta kepada tuhannya apapun yang mereka inginkan, dan tuhan akan mengabulkannya, dan satu hal yang penting, doa yang paling ampuh adalah doa yang berbentuk tindakan daet pegawean, jika tanapa berusaha, bagaimana rezeki akan datang,Itulah kebenaran yang semua orang mengakuinya, maka jangan menyalahkan orang laen jika saat ini kamu miskin, itu semua salahmu sendiri, kamu malas bekerja, kamu malas belajar, kamu juga malas berfikir, walaupun untuk kebaikanmu sendiri, hehe.. oke, langsung kita lihat yuk kata kata sindirannya..Jika kamu takut jeleng, maka hindarilah sifat malas, karena malas daet jeleng adalah teman akrab.JIka kamu ingin sukses menjauh darimu, maka bermalas malasanlah.kendeq begantung kepada orang lain, belajarlah untuk berusaha sendiri, pasti kamu bisa juga melakukannya.Jika kamu mau berusaha pasti akan ada rezekiYang malas, aiq daon pun tak sempat di cicipi, sedangkan yang rajin daging empong-empong pun sempat di nikmati.Hanya orang malas yang selalu mengatakan tidak punya waktu.JIka kamu telah berusahe walaupun tidak kaya namun hidup kamu sudah pastin aq tenang, tapi kalau tidak berusaha dari mana rezeki datang..Otak berisi mudah rezeki, otak kosong payah rezeki.Bukan pohon yang tidak timbuh, bukan pula salah tanaq yang kurang raboqn, bukan keuntungan yang tidak cukup, laguq ndeqn mengerti perhitungannya.Aiq pasang surut, angin berhembus kesana kemari, aiq satu gelas, mana mungkin untuk endaosi. JIka kamu malas memasukkan makananmu ke mulut, maka kamu akan mati kelaparan.Tanyalah pada orang sukses, apakah orang yang malas en sukses.Orang yang paling sial adalah orang yang malas belajar.Hewan aja tidak mau duduk dalam kegelapan, apalagi manusia.

Jumat, 29 Juli 2016

CERITE TONGAQ: CERITE TONGAQ LEQ NEGERI JIRAN

CERITE TONGAQ: CERITE TONGAQ LEQ NEGERI JIRAN

STOP menggunakan Kata "Sunah Rasul" untuk ML dimalam Juma't

Stop Menggunakan Kata ”SUNNAH RASUL” Dimalam Jumat, Baca Nih Akibatnya..... Sudah menjadi kebiasaan kalau hari kamis malam (atau malam Jumat), banyak tersebar kicauan atau status di social media yang isinya berkisar pada perkataan “Sunnah Rasul”. Begitu juga dalam pergaulan sehari-hari di dunia nyata, istilah tersebut juga sering terdengar. Menurut mereka, istilah “Sunnah Rasul” yang populer di malam Jum’at adalah penghalusan dari hubungan suami istri atau ML. Coba lihat sejenak hasil penelusuran super singkat ini, bagaimana ribuan kicauan serasa berlomba-lomba menyebut istilah “Sunnah Rasul”. Bagi mereka yang muslim dalam mengucapkan istilah itu bisa jadi karena ingin menutupi sesuatu yang dianggap vulgar / tabu baginya bila disampaikan dalam ruang publik. Tapi akibatnya fatal, karena telah menyempitkan arti dari sumber hukum kedua setelah Al-Qur’an menjadi hanya sebuah aktifitas seks belaka. Sedangkan bagi mereka yang berhati fasiq dijangkiti penyakit islamophobia dalam mengucapkan istilah itu bisa jadi hanya ingin mengolok-olok, karena baginya ajaran Islam identik dengan urusan sex atau selangkangan. Sehingga tidak segan-segan menuduh dan melecehkan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam yang katanya doyan kimpoi dan pedofilia. (Insya Allah, soal ini nanti akan saya bahas) Dari mana asalnya muncul istilah “Sunnah Rasul” yang di-identikkan dengan aktivitas ML? Semuanya berawal dari hadits ini: Barangsiapa melakukan hubungan suami istri di malam Jumat (kamis malam) maka pahalanya sama dengan membunuh 100 Yahudi.” Dalam hadits yang lain ada disebutkan sama dengan membunuh 1000, ada juga yang menyebut 7000 Yahudi. Sebenarnya bagaimana derajat hadits tersebut, apakah shahih, dhaif atau palsu? Hadits di atas tidak akan ditemukan dalam kitab manapun, baik kumpulan hadits dhaif apalagi shahih. Kalimat tersebut tidak mempunyai sanad / bersambung ke sahabat, apalagi ke Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang akhirnya pada satu kesimpulan bahwa hadits “Sunnah Rasul” di atas adalah sama sekali bukan hadits, itu hadits PALSU yang telah dikarang oleh orang iseng, orang tidak jelas, dan tidak bertanggung-jawab yang mengatasnamakan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan kita tidak akan menemukan satu-pun hadits Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam tentang berhubungan suami istri pada malam-malam tertentu, termasuk malam Jum’at. Kemudian lanjutan penelusuran singkat malam ini di “timeline pencarian”, pandangan mata saya tertarik pada sebuah kicauan yang berbunyi: Kalau menikah itu harus,,kenapa namanya harus sunnah rasul,,bukannya fardu ain,,,kenapa?? Pertanyaan ini mungkin mewakili ke-awam-an dalam masyarakat kita. Hukum pernikahan dalam Islam itu bisa Wajib, bisa Sunnah, bahkan bisa Haram, bisa Makruh, atau bisa Mubah; yang semuanya itu tergantung kondisi / latar belakang dalam pernikahan tersebut. Sedangkan dalam soal berhubungan badan (jima’), yang SALAH adalah pasangan suami istri tersebut meng-khusus-kan malam Juma’t untuk berhubungan badan dengan niat untuk mengamalkan hadits Palsu di atas dan “bersemangat membunuhi ribuan Yahudi” seperti dalam postingan yang menyesatkan di sini: [Kompasiana] Saatnya Membunuh Yahudi Malam Ini. Bagi yang punya akun Kompasiana, silakan menasehati pemilik jurnal tersebut. Kalau mau berhubungan badan dengan pasangan sah-mu, jangan mengkhusus-kan hari-hari, kemudian lebih baik itu diniatkan sebagai ibadah sehingga diawali dan diakhiri dengan do’a. Berhubungan badan dengan pasangan sah adalah merupakan ibadah seperti sabda Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam: Dalam kemaluanmu itu ada sedekah.” Sahabat lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kita mendapat pahala dengan menggauli istri kita?” Rasulullah menjawab, “Bukankah jika kalian menyalurkan nafsu di jalan yang haram akan berdosa? Maka begitu juga sebaliknya, bila disalurkan di jalan yang halal, kalian akan berpahala.” [HR. Bukhari, Abu Dawud dan Ibnu Khuzaimah]. Di Indonesia sangat subur akan hadits-hadits palsu dan dhaif (lemah) yang beredar dan bermaksud untuk menyesatkan dan membodoh-bodohi umat. Oleh karena itu berhati-hatilah, kawan! Mari STOP mengatakan “Sunnah Rasul” sebagai pengganti dari istilah berhubungan suami istri alias ML ! Karena itu dosa besar. Bahkan meskipun itu ucapan dalam bentuk “kode”, karena itu sama dengan menyuburkan kedustaan. Dikatakan berdusta karena mengatakan sebuah hadits padahal Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengatakan apa-apa terhadap yang dikatakan itu. “Kode” itu misalnya begini: Papa: “Mah, ntar malam kita berburu dan membunuhi Yahudi yuk!” Mama: “Maaf, pah, Yahudi nya sudah habis” kode kalau si mama lagi datang bulan / pms Pasutri (pasangan suami istri) terpaksa menggunakan bahasa sandi tersebut agar komunikasinya sulit dipahami anaknya di dalam rumah. Bercanda seperti ini hanya akan menumbuh-suburkan kedustaan hadits tersebut. Itupun akan dituntut di akherat kelak. Maka silakan cari kode atau bahan candaan yang lebih bermutu. Lantas, apa sih sebenarnya Sunnah Rasul itu? Definisi yang benar tentang Sunnah Rasul dalam Islam mengacu kepada sikap, perilaku / tindakan, ucapan dan cara Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam menjalani hidupnya. Sunnah merupakan sumber hukum kedua dalam Islam, setelah Al-Quran. Narasi atau informasi yang disampaikan oleh para sahabat tentang sikap, tindakan, ucapan dan cara Rasulullah disebut sebagai hadits. Sedangkan Sunnah yang diperintahkan oleh Allah disebut Sunnatullah. Keseharian dan perilaku Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan gambaran kesempurnaan utuh seorang manusia. Akhlak Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wassalam merupakan kesempurnaan akhlak pada diri seseorang yang harus diikuti dan diteladani. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Sungguh telah ada pada diri Rasulullah suri tauladan yang baik bagimu.” [QS Al Ahzab: 21]. Bagi seorang Muslim, mengikuti sunnah atau tidak bukanlah suatu “kebebasan memilih”. Sebab mengamalkan ajaran Islam sesuai garis yang telah ditentukan oleh Rasulullah adalah KEWAJIBAN yang harus ditaati, sebagaimana difirmankan dalam Al-Qur’an: Dan apa yang Rasul berikan untukmu, maka terimalah ia, dan apa yang ia larang bagimu, maka juhilah.” [Q.S. Al-Hasyr: 7] Sunnah merupakan kunci untuk memahami pesan-pesan Al-Qur’an dan sebagai perangkat pengurai yang menunjuki dari dalil-dalil yang tersedia di dalamnya. Al-Qur’an diturunkan hanya memuat prinsip-prinsip dasar dan hukum Islam secara global sebagai aturan hidup, sedang sunnah mengajarkan petunjuk pelaksanaannya; jadi sunnah sangat diperlukan jika seseorang hendak mengamalkan secara benar ajaran Islam guna menjadi seorang Muslim yang hakiki. Hal ini dinyatakan dalam Al-Qur’an: Siapa yang taat kepada Rasul, maka ia taat kepada Allah.” [Q.S. An-Nisaa': 80] Apakah ada Sunnah Rasul yang ada keterkaitannya dengan aktivitas pada hari Jumat (atau malam Jum’at)? Ada. Hadits di bawah ini shahih. Memperbanyak membaca shalawat. Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Perbanyaklah shalawat kepadaku pada pada hari Jum’at dan malam Jum’at. Barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu kali niscaya Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Al Baihaqi) Membaca Al-Qur’an khususnya surat Al Kahfi. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda: Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at akan diberikan cahaya baginya diantara dua Jum’at.” (HR. Al Hakim) Memperbanyak do’a. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda: Hari Jum’at itu dua belas jam. Tidak ada seorang muslim pun yang memohon sesuatu kepada Allah dalam waktu tersebut melainkan akan dikabulkan oleh Allah. Maka peganglah erat-erat (ingatlah bahwa) akhir dari waktu tersebut jatuh setelah ‘ashar.” (HR. Abu Dawud) Membaca surat As-Sajdah dan Al-Insan dalam Sholat Subuh. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca pada shalat Shubuh di hari Jum’at “Alam Tanzil …” (surat As Sajdah) pada raka’at pertama dan “Hal ataa ‘alal insaani hiinum minad dahri lam yakun syai-am madzkuro” (surat Al Insan) pada raka’at kedua.” (HR. Muslim) Dan dianjurkan ketika di rakaat pertama sampai pada bacaan ayat ke 15, imam sujud diikuti oleh makmum. Setelah sujud, imam berdiri kembali membaca ayat selanjutanya sampai selesai. Shalat Jum’at, Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda: Salat Jumat itu wajib atas tiap muslim dilaksanakan secara berjamaah terkecuali empat golongan yaitu hamba sahaya, perempuan, anak kecil dan orang sakit.” (HR.Abu Daud dan Al Hakim) Jadi, kalau bicara Sunnah Rasul di hari Jumat dan malam Jum’at, ya silakan kaitkan dengan LIMA aktivitas yang disebutkan di atas. Jangan dikaitkan dengan nge-seks atau ML. Bagi pasutri, kalau mau ML bisa kapan saja, tidak ada hari istimewa. Mari menjaga, memelihara dan mengamalkan sunnah-sunnah Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam yang selama ini menjadi hukum syariat kedua setelah Al-Qur’an.